Setia Mengasah Akik di Sudut Pasar, Pak Munin Tak Pernah Sepi Pelanggan
Agam, Mediorra - Di antara riuh tawar-menawar dan langkah pengunjung yang saling berpapasan, sebuah dengung halus terdengar dari sudut pasar. Suara gerinda kecil itu nyaris tenggelam dalam keramaian, namun bagi sebagian orang, bunyi tersebut menjadi penanda bahwa Pak Munin sedang bekerja.
![]() |
| Pak Munin tengah mengasah cincin akik di Pasar Serikat Lubuk Basung-Garagahan, Kamis (19/2). |
Tak banyak yang mengetahui nama aslinya. Ia lebih dikenal dengan sapaan Pak Munin, nama yang melekat begitu saja, seperti kilau yang perlahan muncul dari batu akik yang ia asah.
Sejak kapan ia memulai profesi ini pun tak ada yang benar-benar tahu. Namun gerinda sederhana yang ditopang kayu tua di hadapannya seakan menjadi saksi bahwa pekerjaan ini telah lama ia jalani.
Peralatan yang digunakan jauh dari kesan modern. Sebuah gerinda kecil, potongan amplas yang mulai menipis dan abu dapur dalam wadah sederhana menjadi senjata utamanya.
Prosesnya bersahaja, batu diratakan dengan gerinda, dihaluskan dengan amplas, lalu digosok menggunakan abu dapur hingga memunculkan kilau alami.
Pak Munin bekerja dengan tenang dan teliti. Sesekali batu diangkat mendekati cahaya, dimiringkan perlahan untuk memastikan pantulan sinarnya merata. Wajahnya teduh, gerakannya sabar, seolah waktu berjalan lebih lambat di meja kecil tempat ia bekerja.
Ia membuka lapaknya hanya dua kali dalam sepekan, setiap Kamis dan Minggu. Pada hari-hari itu, ia datang membawa peralatan sederhana, duduk di tempat yang sama dan memulai rutinitas yang mungkin telah ia ulang ribuan kali.
“Saya hanya mengasah supaya batunya keluar kilau alaminya. Tidak perlu alat mahal, yang penting sabar dan teliti,” ujar Pak Munin singkat sambil terus menggerinda batu di tangannya.
Pelanggannya beragam, pedagang pasar, petani, sopir angkutan, hingga pecinta batu akik. Sebagian datang dengan batu kusam, lalu pulang dengan cincin yang tampak baru. Sebagian lainnya membawa kenangan, berharap kilau batu dapat menghidupkan kembali nilai sentimental yang melekat padanya.
Salah seorang pelanggan setianya, Ajo In, mengaku sudah lama menggunakan jasa Pak Munin.
“Kalau di tangan beliau, batu yang kusam bisa jadi bening dan hidup. Saya sudah beberapa kali ke sini, hasilnya selalu memuaskan,” kata Ajo In.
Ia menilai ketelitian dan kesabaran menjadi kekuatan utama Pak Munin dalam bekerja.
“Beliau tidak terburu-buru. Dikerjakan pelan, tapi hasilnya halus dan mengkilap. Itu yang membuat kami tetap datang,” tambahnya.
Tanpa papan nama besar atau promosi mencolok, keberadaan Pak Munin dikenal dari mulut ke mulut. Mereka yang pernah merasakan hasil tangannya akan kembali, membawa batu lain untuk diasah atau sekadar singgah menyapa.
Di tengah dunia yang serba cepat dan modern, Pak Munin tetap setia pada cara lamanya. Gerinda sederhana, amplas tipis, dan abu dapur menjadi simbol ketekunan yang ia rawat dari waktu ke waktu. Dari tangannya, batu-batu kecil kembali bersinar, bukan sekadar memantulkan cahaya, tetapi juga memantulkan nilai kesabaran dan kerja keras.
Dan setiap Kamis serta Minggu, dengung gerinda itu kembali terdengar di sudut pasar, menjadi penanda bahwa di tengah kesederhanaan, masih ada tangan-tangan tekun ya
ng setia menghadirkan kilau.
